Kamis, 23 Oktober 2014
Ketika Kekuatan Visi (Niat dan Doa), Kerja Keras, Kesungguhan dipadukan, maka Kesuksesan tinggal Menunggu Waktu
Ini kisah tentang perang Khandak, ketika jumlah kaum muslimin hanya 1000 pasukan, dihadapkan dengan pasukan pasukan koalisi multinasional, pasukan gabungan antara Quraisy Mekkah & Bangsa Yahudi dengan total 10.000 pasukan + 600 ekor kuda.
Secara matematis jelas pasukan muslimin tidak akan mampu mengalahkan pasukan koalisi, terlebih armada perang mereka yang terbatas. Namun saat itu Rasulullah malah bersabda:
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).
Sebuah pemandangan menakjubkan, di mana ketika kaum muslimin dihadapkan dengan kecemasan yang luar biasa akan ancaman yang begitu besar dari Pasukan Koalisi, Rasulullah malah menghadirkan ketenangan di hati para sahabatnya dengan menyampaikan hadits penaklukan 2 peradaban terbesar di dunia saat itu. Jika membayangkan kondisi umat Islam yang masih lemah ketika itu, kebanyakan orang tentu akan bilang "Muhammad Gila".
Pada tahun 1453, kurang lebih 7 abad setelah Rasul wafat, seorang pemuda bernama Muhammad al-Fatih memimpin penaklukan Konstantinopel, Ibu Kota Romawi Timur, hingga akhirnya meruntuhkan kekaisaran Romawi Timur. Beliau pun meraih takdirnya sebagai sebaik-sebaiknya pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan sebagai mana yang disebutkan Rasulullah dalam hadits di atas.
Dari kisah ini Rasulullah mengajarkan kita tentang kekuatan visi, membangun cita-cita, membangun impian. sesulit apapun kondisi kita, jangan pernah berhenti untuk bercita-cita dan bermimpi. Karena kekuatan visi inilah, walaupun Rasulullah telah wafat, visinya tak lekang ditelan zaman.
Sedangkan Muhammad al-Fatih mengajarkan kita untuk meyakini segala apa yang dikatakan Rasulullah. Rasulullah memiliki sifat Siddiq, maka apa yang beliau katakan pastilah sebuah kebenaran. Keyakinan akan kebenaran Rasulullah membuat Muhammad al-Fatih terus berjuang dengan segenap jiwa dan raganya mewujudkan visi Rasulullah yang tertunda selama 7 abad lamanya. Hanya kesungguhan dan waktu yang menentukan kapan visi tersebut terwujud, dan Muhammad al-Fatih telah membuktikannya.
*********
Tidak ada cita-cita atau mimpi yang tidak masuk akal. Kita hanya perlu menakar berapa kekuatan yang mesti dihimpun dan kapan target realisasinya, setelah itu, fokuslah berjuang sekuat tenaga mewujudkannya.
oleh Roni Akmal
Rabu, 22 Oktober 2014
Hari Gini Takut Nikah ?? Enak Kaleeessss :D
Ukhti... atau dalam indonesianya Mbaa...
Bila pernikahan membuatmu khawatir merubah hidupmu, coba gali ilmu lagi. Tambah referensi bacaan atau hadir di majelis ilmu.
Karena seruan Rasulullah untuk segera menggenapkan setengah dien sungguh banyaklah manfaatnya, sungguh akan banyak keberkahan.
Ukhti, bila kita risau siapakah yg akan menjadi pendamping kita, yakin saja, bila Allah akan kirimkan sosok lelaki yg shalih, bila kita memilih menjadi wanita shalihah.
Ukhti, bila kita takut setelah menikah akan terpasung dalam rutinitas di rumah, tak perlu takut, ladang amalmu terhampar luas di mulai dari mengurus rumah. Kembangkanlah potensi diri di mana saja, yakin kita bisa
Ukhti, bila ada rasa takut kekurangan, kembalilah pada Allah, bahwa Tuhan kita Maha Kaya, yakilah rizki kita tak mungkin tertukar dg yg lain. Kalau sebelum nikah rizki kita udah banyak, apalagi setelah nikah, Allah yg akan mencukupkan.
Ukhti, bila ada ketakutan pendampingmu akan bersikap kasar, lemah lembutlah, sekeras apapun batu yg setiap saat di tetesi air, maka suatu saat batu itu akan berlubang. Begitupun dg hati yg keras, doa dan kelembutan kitalah yg akan menggerakkan hatinya untuk bersikap lembut.
Ukhti, laki-laki shalih tak akan menjatuhkan pilihan berdasar wajah dan harta saja. Lelaki shalih akan memilih karena kedekatan kita kepada Allah.
Lelaki yg shalih akan memuliakan istrinya, akan menjaganya, akan bertanggung jawab, mencintainya. Dan akan berjuang untuk keluarganya.
Shalihahkan diri kita. Dan semoga Allah jodohkan dg lelaki shalih.
Aamiin
oleh a5
Selasa, 14 Oktober 2014
Berikan Perhatian Kepada Anak-anakmu Bunda | Psikologi Anak | Aqilbaligh | Mendidik Anak bagian 2
Islam tdk mengenal konsep BALIGH belum AQIL dan AQIL namun belum BALIGH, alias REMAJA
Istilah remaja atau Adolescene bahkan tidak dikenal di seluruh dunia sampai abad ke 19
Baligh (kedewasaan fisik biologis) mesti sejalan dengan Aqil (kedewasaan psikologis, sosial, syariah)
Transisi boleh saja sepanjang jangan terlalu lama
Kita bisa saksikan bhw anak2 muslim generasi kini, mereka sudah baligh di usia 13-16 tahun, namun baru benar bisa mandiri di usia 23-26 tahun
Semua ulama Fiqh sepakat bhw anak yg sdh Aqil Baligh (terutama pria) maka tidak wajib lagi dinafkahi
Jikapun masih dinafkahi, itu namanya shodaqoh krn statusnya adalah dewasa faqir miskin
Subhanallah, kita bisa bayangkan andai amanah Rasulullah saw ttg pendidikan generasi aqil baligh ini dijalankan oleh ummat Islam
Terjadi percepatan peradaban yg luarbiasa. Kenakalan dan penyimpangan remaja yg menguras banyak tenaga, fikiran, air mata, nyawa dan bahkan kehormatan tdk akan terjadi. ZERO WASTE GENERATION
Itulahn mengapa peradaban Islam dahulu excelent
Para pemuda belia belasan tahun telah mencapai peran2 peradabannya di usia aqil baligh
Karya2 peradaban akan melimpah, bukan sampah2 peradaban
Apakah Allah swt lalai ketika menjadi seorang pria Apa yg saya share nanti adalah hasil diskusi panjang di komunitas MLC beberapa tahun belakangan ini. Juga merupakan hasil kolaborasi ayah, ibu, guru, pakar dll.
Kami akhirnya meyakini dan menyadari bahwa tiada lembaga terbaik di muka bumi utk mendidik generasi kecuali di keluarga dan di jama'ah atau komunitas
Fungsi pernikahan atau berkeluarga adalah mendidik anak dan membangun kepemimpinan/kemandirian berbasis potensi keluarga
Ketika kedua fungsi itu hilang, maka berakhirlah peran dan fungsi keluarga
Di abad modern ini, nyaris di banyak keluarga atau rumah, kedua misi dan fungsi itu tercerabut dari rumah
Umumnya fungsi mendidik anak diserahkan kpd persekolahan, fungsi kepemimpinan atau kemandirian atau kewirausahaan diserahkan kpd industri di luar rumah
Ketika amanah2 ini terlalaikan, maka terjadilah penyimpangan fitrah yg luar biasa dari anggota2 keluarga dan akhirnya secara massive menjadi penyimpangan sosial dan kejiwaan di masyarakat
Diantaranya perceraian sangat mudah terjadi, menurut statistik perceraian di Indonesia terjadi setiap 36 menit
Rumah tidak lagi sehangat dulu
Orang lalu sibuk bicara Quality Time, padahal Quantity juga penting
Terkait dgn tema hari ini mengenai konsep Aqil Baligh, sangat erat kaitannya dengan peran Home Education
Dunia di luar sana tidak pernah peduli dengan konsep pendidikan yang melahirkan generasi Aqil Baligh
pernah dengar kalau generasi di jaman nabi itu perkembangan psikologisnya berkembang lebih cepat daripada perkembangan fisiologisnya
sehingga jaman dulu banyak yg msh anak2 tp sdh hafal berbagai kitab dan berani memimpin perang (mohon koreksi jika ad yg keliru)
Ya benar, tradisi generasi aqil baligh sebenarnya berlangsung sampai era sebelum persekolahan modern masuk ke Indonesia
Indonesia mengenal konsep Surau, Dayah, Rangkang, Meunasah dll
Para ulama dahulu menanamkan tradisi kemandirian ketika menjelang aqilbaligh. Anak2 ketika itu umumnya sdh malu kalau usia 8-9 tahun masih tidur di rumah
Umumnya mereka tidur di Suraum (mushola/masjid)
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah swt
Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya
Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya pd Sahabat2 muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah saw sdh menjelang senja)
Kita mengenal Usamah bin Zaid ra
Siroh mencatat bhw Rasulullah saw menikahkan Usamah ra ketika berusia 14 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah ra?
jadi point penting pendidikan ketika zaman itu adalah kemandirian anak pak?
Tentu tidak. Usamah telah mengalami pendidikan generasi aqil baligh
Siroh kemudian mencatat bahwa Usamah ra ditunjuk menjadi panglima perang ke Tabuk pd usia 16 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menunjuk seseorang dalam penugasan yg penting?
Saya meyakini bukan hanya Usamah ra yang menjalani pendidikan generasi Aqil Baligh ini, tetapi juga sahabat2 seangkatan dengannya. Tentu dgn pendidikan yg disesuaikan dgn potensinya
Karenanya, model mendidik seperti ini kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
nanti kita bahas. Ada upaya melambatkan terbentuknya generasi aqil baligh ini. Bukan hanya pd generasi muda Islam, namun seluruh generasi pd abad modern
Sebuah Journal Psikologi thn 2009 menyebut bhw penyebab penyimpangan perilaku generasi muda adalah krn lambatnya pengakuan sosial pd kedewasaan mereka. Di Amerika, bahkan kecenderungan seorang dianggap dewasa ketika berusia 26 tahun
model mendidik generasi aqilbaligh seperti yg Rasulullah SAW teladankan kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
Kita saksikan sepanjang sejarah putra2 AqilBaligh Islam bukan hanya mandiri ketika AqilBaligh tetapi telah memiliki peran yg menebar rahmat dan manfaat
Imam Syafii rahimahullah telah menjadi Mufti (pemberi fatwa) di usia 14 tahun
Alkhawarizmi telah menjadi penemu pemikiran2 matematika sejak usia 10 tahun dan menjadi guru besar di usia 16 tahun
HE secara berjamaah adalah lembaga yg kami yakini paling siap dan mampu melakukan itu
InsyaAllah
Dalam masyarakat yg menyerahkan anaknya pd persekolahan modern, mustahil bisa melahirkan generasi aqil baligh. Sistem persekolahan yg ada telah mensegregasi anak2 kita menjadi kelas2 sosial yg seolah telah baku. Misalnya disebut dewasa kalau sdh kerja dan kelar kuliah
Di masyarakat modern, siapa yg mau menerima anak2 berusia 14-16 tahun dalam sebuah peran2 di sosial masyarakat ??
Itu bukan salah anak kita atau generasi mereka. Tidak ada anak yg berdoa agar dijadikan anak alay dan lalai kan?
Seorang pakar psikolog Muslim, kalau tdk salah asal Turki, namanya Malik Badri. Tahun 85 pernah ke Indonesia. Bukunya yg kita kenal dan banyak diterjemahkan adalah Dilema Psikolog Muslim, mengatakan
Mengatakan bhw penjenjangan toddler, kids, teenager, adults dgn masing2 punya tahap awal tengah dan akhir dstnya bukan berasal dari landasan ilmiah. Itu hanya pengamatan psikolog barat thd masyarakat mereka. Yg kemudian diadopsi menjadi jenjang persekolahan
Malik Badri mengatakan bhw Islam hanya mengenal dua periode kehidupan di dunia, yaitu sebelum Aqil Baligh dan sesudah Aqil Baligh
Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan secara biologis. Kalau anak pria, biasanya suara membesar, tumbuh jakun, mimpi basah dstnya
Kalau anak wanita ditandai dgn menstruasi dstnya
Kondisi baligh itu dicapai umumnya pd usia 13-16 tahun
Secara syariah ketika seorang anak mencapai aqil baligh, maka berlakulah sinnu taklif yaitu masa2 pembebanan syariah. Artinya anak kita yg mencapai aqil baligh maka kewajiban syariahnya akan setara dengan kedua orangtuanya
Ketika itu anak2 kita akan setara kewajibannya dgn kedua orangtuanya dalam shalat, puasa, zakat, haji, jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya
Mereka telah menjadi manusia dewasa
Yg memikul semua beban kewajiban seorang manusia dewasa
Artinya apa?
Artinya pendidikan Islam sejatinya menyiapkan anak2 Islam agar mampu menerima kewajiban syariah ketika mereka mencapai Aqil Baligh
Islam tdk mengenal konsep BALIGH belum AQIL dan AQIL namun belum BALIGH, alias REMAJA
Istilah remaja atau Adolescene bahkan tidak dikenal di seluruh dunia sampai abad ke 19
Baligh (kedewasaan fisik biologis) mesti sejalan dengan Aqil (kedewasaan psikologis, sosial, syariah)
Transisi boleh saja sepanjang jangan terlalu lama
Kita bisa saksikan bhw anak2 muslim generasi kini, mereka sudah baligh di usia 13-16 tahun, namun baru benar bisa mandiri di usia 23-26 tahun
Semua ulama Fiqh sepakat bhw anak yg sdh Aqil Baligh (terutama pria) maka tidak wajib lagi dinafkahi
Jikapun masih dinafkahi, itu namanya shodaqoh krn statusnya adalah dewasa faqir miskin
Subhanallah, kita bisa bayangkan andai amanah Rasulullah saw ttg pendidikan generasi aqil baligh ini dijalankan oleh ummat Islam
Terjadi percepatan peradaban yg luarbiasa. Kenakalan dan penyimpangan remaja yg menguras banyak tenaga, fikiran, air mata, nyawa dan bahkan kehormatan tdk akan terjadi. ZERO WASTE GENERATION
Itulahn mengapa peradaban Islam dahulu excelent
Para pemuda belia belasan tahun telah mencapai peran2 peradabannya di usia aqil baligh
Karya2 peradaban akan melimpah, bukan sampah2 peradaban
Apakah Allah swt lalai ketika menjadi seorang pria
Istilah remaja atau Adolescene bahkan tidak dikenal di seluruh dunia sampai abad ke 19
Baligh (kedewasaan fisik biologis) mesti sejalan dengan Aqil (kedewasaan psikologis, sosial, syariah)
Transisi boleh saja sepanjang jangan terlalu lama
Kita bisa saksikan bhw anak2 muslim generasi kini, mereka sudah baligh di usia 13-16 tahun, namun baru benar bisa mandiri di usia 23-26 tahun
Semua ulama Fiqh sepakat bhw anak yg sdh Aqil Baligh (terutama pria) maka tidak wajib lagi dinafkahi
Jikapun masih dinafkahi, itu namanya shodaqoh krn statusnya adalah dewasa faqir miskin
Subhanallah, kita bisa bayangkan andai amanah Rasulullah saw ttg pendidikan generasi aqil baligh ini dijalankan oleh ummat Islam
Terjadi percepatan peradaban yg luarbiasa. Kenakalan dan penyimpangan remaja yg menguras banyak tenaga, fikiran, air mata, nyawa dan bahkan kehormatan tdk akan terjadi. ZERO WASTE GENERATION
Itulahn mengapa peradaban Islam dahulu excelent
Para pemuda belia belasan tahun telah mencapai peran2 peradabannya di usia aqil baligh
Karya2 peradaban akan melimpah, bukan sampah2 peradaban
Apakah Allah swt lalai ketika menjadi seorang pria Apa yg saya share nanti adalah hasil diskusi panjang di komunitas MLC beberapa tahun belakangan ini. Juga merupakan hasil kolaborasi ayah, ibu, guru, pakar dll.
Kami akhirnya meyakini dan menyadari bahwa tiada lembaga terbaik di muka bumi utk mendidik generasi kecuali di keluarga dan di jama'ah atau komunitas
Fungsi pernikahan atau berkeluarga adalah mendidik anak dan membangun kepemimpinan/kemandirian berbasis potensi keluarga
Ketika kedua fungsi itu hilang, maka berakhirlah peran dan fungsi keluarga
Di abad modern ini, nyaris di banyak keluarga atau rumah, kedua misi dan fungsi itu tercerabut dari rumah
Umumnya fungsi mendidik anak diserahkan kpd persekolahan, fungsi kepemimpinan atau kemandirian atau kewirausahaan diserahkan kpd industri di luar rumah
Ketika amanah2 ini terlalaikan, maka terjadilah penyimpangan fitrah yg luar biasa dari anggota2 keluarga dan akhirnya secara massive menjadi penyimpangan sosial dan kejiwaan di masyarakat
Diantaranya perceraian sangat mudah terjadi, menurut statistik perceraian di Indonesia terjadi setiap 36 menit
Rumah tidak lagi sehangat dulu
Orang lalu sibuk bicara Quality Time, padahal Quantity juga penting
Terkait dgn tema hari ini mengenai konsep Aqil Baligh, sangat erat kaitannya dengan peran Home Education
Dunia di luar sana tidak pernah peduli dengan konsep pendidikan yang melahirkan generasi Aqil Baligh
pernah dengar kalau generasi di jaman nabi itu perkembangan psikologisnya berkembang lebih cepat daripada perkembangan fisiologisnya
sehingga jaman dulu banyak yg msh anak2 tp sdh hafal berbagai kitab dan berani memimpin perang (mohon koreksi jika ad yg keliru)
Ya benar, tradisi generasi aqil baligh sebenarnya berlangsung sampai era sebelum persekolahan modern masuk ke Indonesia
Indonesia mengenal konsep Surau, Dayah, Rangkang, Meunasah dll
Para ulama dahulu menanamkan tradisi kemandirian ketika menjelang aqilbaligh. Anak2 ketika itu umumnya sdh malu kalau usia 8-9 tahun masih tidur di rumah
Umumnya mereka tidur di Suraum (mushola/masjid)
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah swt
Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya
Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya pd Sahabat2 muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah saw sdh menjelang senja)
Kita mengenal Usamah bin Zaid ra
Siroh mencatat bhw Rasulullah saw menikahkan Usamah ra ketika berusia 14 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah ra?
jadi point penting pendidikan ketika zaman itu adalah kemandirian anak pak?
Tentu tidak. Usamah telah mengalami pendidikan generasi aqil baligh
Siroh kemudian mencatat bahwa Usamah ra ditunjuk menjadi panglima perang ke Tabuk pd usia 16 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menunjuk seseorang dalam penugasan yg penting?
Saya meyakini bukan hanya Usamah ra yang menjalani pendidikan generasi Aqil Baligh ini, tetapi juga sahabat2 seangkatan dengannya. Tentu dgn pendidikan yg disesuaikan dgn potensinya
Karenanya, model mendidik seperti ini kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
nanti kita bahas. Ada upaya melambatkan terbentuknya generasi aqil baligh ini. Bukan hanya pd generasi muda Islam, namun seluruh generasi pd abad modern
Sebuah Journal Psikologi thn 2009 menyebut bhw penyebab penyimpangan perilaku generasi muda adalah krn lambatnya pengakuan sosial pd kedewasaan mereka. Di Amerika, bahkan kecenderungan seorang dianggap dewasa ketika berusia 26 tahun
model mendidik generasi aqilbaligh seperti yg Rasulullah SAW teladankan kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
Kita saksikan sepanjang sejarah putra2 AqilBaligh Islam bukan hanya mandiri ketika AqilBaligh tetapi telah memiliki peran yg menebar rahmat dan manfaat
Imam Syafii rahimahullah telah menjadi Mufti (pemberi fatwa) di usia 14 tahun
Alkhawarizmi telah menjadi penemu pemikiran2 matematika sejak usia 10 tahun dan menjadi guru besar di usia 16 tahun
HE secara berjamaah adalah lembaga yg kami yakini paling siap dan mampu melakukan itu
InsyaAllah
Dalam masyarakat yg menyerahkan anaknya pd persekolahan modern, mustahil bisa melahirkan generasi aqil baligh. Sistem persekolahan yg ada telah mensegregasi anak2 kita menjadi kelas2 sosial yg seolah telah baku. Misalnya disebut dewasa kalau sdh kerja dan kelar kuliah
Di masyarakat modern, siapa yg mau menerima anak2 berusia 14-16 tahun dalam sebuah peran2 di sosial masyarakat ??
Itu bukan salah anak kita atau generasi mereka. Tidak ada anak yg berdoa agar dijadikan anak alay dan lalai kan?
Seorang pakar psikolog Muslim, kalau tdk salah asal Turki, namanya Malik Badri. Tahun 85 pernah ke Indonesia. Bukunya yg kita kenal dan banyak diterjemahkan adalah Dilema Psikolog Muslim, mengatakan
Mengatakan bhw penjenjangan toddler, kids, teenager, adults dgn masing2 punya tahap awal tengah dan akhir dstnya bukan berasal dari landasan ilmiah. Itu hanya pengamatan psikolog barat thd masyarakat mereka. Yg kemudian diadopsi menjadi jenjang persekolahan
Malik Badri mengatakan bhw Islam hanya mengenal dua periode kehidupan di dunia, yaitu sebelum Aqil Baligh dan sesudah Aqil Baligh
Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan secara biologis. Kalau anak pria, biasanya suara membesar, tumbuh jakun, mimpi basah dstnya
Kalau anak wanita ditandai dgn menstruasi dstnya
Kondisi baligh itu dicapai umumnya pd usia 13-16 tahun
Secara syariah ketika seorang anak mencapai aqil baligh, maka berlakulah sinnu taklif yaitu masa2 pembebanan syariah. Artinya anak kita yg mencapai aqil baligh maka kewajiban syariahnya akan setara dengan kedua orangtuanya
Ketika itu anak2 kita akan setara kewajibannya dgn kedua orangtuanya dalam shalat, puasa, zakat, haji, jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya
Mereka telah menjadi manusia dewasa
Yg memikul semua beban kewajiban seorang manusia dewasa
Artinya apa?
Artinya pendidikan Islam sejatinya menyiapkan anak2 Islam agar mampu menerima kewajiban syariah ketika mereka mencapai Aqil Baligh
Islam tdk mengenal konsep BALIGH belum AQIL dan AQIL namun belum BALIGH, alias REMAJA
Istilah remaja atau Adolescene bahkan tidak dikenal di seluruh dunia sampai abad ke 19
Baligh (kedewasaan fisik biologis) mesti sejalan dengan Aqil (kedewasaan psikologis, sosial, syariah)
Transisi boleh saja sepanjang jangan terlalu lama
Kita bisa saksikan bhw anak2 muslim generasi kini, mereka sudah baligh di usia 13-16 tahun, namun baru benar bisa mandiri di usia 23-26 tahun
Semua ulama Fiqh sepakat bhw anak yg sdh Aqil Baligh (terutama pria) maka tidak wajib lagi dinafkahi
Jikapun masih dinafkahi, itu namanya shodaqoh krn statusnya adalah dewasa faqir miskin
Subhanallah, kita bisa bayangkan andai amanah Rasulullah saw ttg pendidikan generasi aqil baligh ini dijalankan oleh ummat Islam
Terjadi percepatan peradaban yg luarbiasa. Kenakalan dan penyimpangan remaja yg menguras banyak tenaga, fikiran, air mata, nyawa dan bahkan kehormatan tdk akan terjadi. ZERO WASTE GENERATION
Itulahn mengapa peradaban Islam dahulu excelent
Para pemuda belia belasan tahun telah mencapai peran2 peradabannya di usia aqil baligh
Karya2 peradaban akan melimpah, bukan sampah2 peradaban
Apakah Allah swt lalai ketika menjadi seorang pria
Berikan Perhatian kepada Anak-Anak mu Bunda | Psikologi anak | Mendidik.... bagian 1
Apa yg saya share nanti adalah hasil diskusi panjang di komunitas MLC beberapa tahun belakangan ini. Juga merupakan hasil kolaborasi ayah, ibu, guru, pakar dll.
Kami akhirnya meyakini dan menyadari bahwa tiada lembaga terbaik di muka bumi utk mendidik generasi kecuali di keluarga dan di jama'ah atau komunitas
Fungsi pernikahan atau berkeluarga adalah mendidik anak dan membangun kepemimpinan/kemandirian berbasis potensi keluarga
Ketika kedua fungsi itu hilang, maka berakhirlah peran dan fungsi keluarga
Di abad modern ini, nyaris di banyak keluarga atau rumah, kedua misi dan fungsi itu tercerabut dari rumah
Umumnya fungsi mendidik anak diserahkan kpd persekolahan, fungsi kepemimpinan atau kemandirian atau kewirausahaan diserahkan kpd industri di luar rumah
Ketika amanah2 ini terlalaikan, maka terjadilah penyimpangan fitrah yg luar biasa dari anggota2 keluarga dan akhirnya secara massive menjadi penyimpangan sosial dan kejiwaan di masyarakat
Diantaranya perceraian sangat mudah terjadi, menurut statistik perceraian di Indonesia terjadi setiap 36 menit
Rumah tidak lagi sehangat dulu
Orang lalu sibuk bicara Quality Time, padahal Quantity juga penting
Terkait dgn tema hari ini mengenai konsep Aqil Baligh, sangat erat kaitannya dengan peran Home Education
Dunia di luar sana tidak pernah peduli dengan konsep pendidikan yang melahirkan generasi Aqil Baligh
pernah dengar kalau generasi di jaman nabi itu perkembangan psikologisnya berkembang lebih cepat daripada perkembangan fisiologisnya
sehingga jaman dulu banyak yg msh anak2 tp sdh hafal berbagai kitab dan berani memimpin perang (mohon koreksi jika ad yg keliru)
Ya benar, tradisi generasi aqil baligh sebenarnya berlangsung sampai era sebelum persekolahan modern masuk ke Indonesia
Indonesia mengenal konsep Surau, Dayah, Rangkang, Meunasah dll
Para ulama dahulu menanamkan tradisi kemandirian ketika menjelang aqilbaligh. Anak2 ketika itu umumnya sdh malu kalau usia 8-9 tahun masih tidur di rumah
Umumnya mereka tidur di Suraum (mushola/masjid)
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah swt
Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya
Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya pd Sahabat2 muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah saw sdh menjelang senja)
Kita mengenal Usamah bin Zaid ra
Siroh mencatat bhw Rasulullah saw menikahkan Usamah ra ketika berusia 14 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah ra?
jadi point penting pendidikan ketika zaman itu adalah kemandirian anak pak?
Tentu tidak. Usamah telah mengalami pendidikan generasi aqil baligh
Siroh kemudian mencatat bahwa Usamah ra ditunjuk menjadi panglima perang ke Tabuk pd usia 16 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menunjuk seseorang dalam penugasan yg penting?
Saya meyakini bukan hanya Usamah ra yang menjalani pendidikan generasi Aqil Baligh ini, tetapi juga sahabat2 seangkatan dengannya. Tentu dgn pendidikan yg disesuaikan dgn potensinya
Karenanya, model mendidik seperti ini kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
nanti kita bahas. Ada upaya melambatkan terbentuknya generasi aqil baligh ini. Bukan hanya pd generasi muda Islam, namun seluruh generasi pd abad modern
Sebuah Journal Psikologi thn 2009 menyebut bhw penyebab penyimpangan perilaku generasi muda adalah krn lambatnya pengakuan sosial pd kedewasaan mereka. Di Amerika, bahkan kecenderungan seorang dianggap dewasa ketika berusia 26 tahun
model mendidik generasi aqilbaligh seperti yg Rasulullah SAW teladankan kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
Kita saksikan sepanjang sejarah putra2 AqilBaligh Islam bukan hanya mandiri ketika AqilBaligh tetapi telah memiliki peran yg menebar rahmat dan manfaat
Imam Syafii rahimahullah telah menjadi Mufti (pemberi fatwa) di usia 14 tahun
Alkhawarizmi telah menjadi penemu pemikiran2 matematika sejak usia 10 tahun dan menjadi guru besar di usia 16 tahun
HE secara berjamaah adalah lembaga yg kami yakini paling siap dan mampu melakukan itu
InsyaAllah
Dalam masyarakat yg menyerahkan anaknya pd persekolahan modern, mustahil bisa melahirkan generasi aqil baligh. Sistem persekolahan yg ada telah mensegregasi anak2 kita menjadi kelas2 sosial yg seolah telah baku. Misalnya disebut dewasa kalau sdh kerja dan kelar kuliah
Di masyarakat modern, siapa yg mau menerima anak2 berusia 14-16 tahun dalam sebuah peran2 di sosial masyarakat ??
Itu bukan salah anak kita atau generasi mereka. Tidak ada anak yg berdoa agar dijadikan anak alay dan lalai kan?
Seorang pakar psikolog Muslim, kalau tdk salah asal Turki, namanya Malik Badri. Tahun 85 pernah ke Indonesia. Bukunya yg kita kenal dan banyak diterjemahkan adalah Dilema Psikolog Muslim, mengatakan
Mengatakan bhw penjenjangan toddler, kids, teenager, adults dgn masing2 punya tahap awal tengah dan akhir dstnya bukan berasal dari landasan ilmiah. Itu hanya pengamatan psikolog barat thd masyarakat mereka. Yg kemudian diadopsi menjadi jenjang persekolahan
Malik Badri mengatakan bhw Islam hanya mengenal dua periode kehidupan di dunia, yaitu sebelum Aqil Baligh dan sesudah Aqil Baligh
Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan secara biologis. Kalau anak pria, biasanya suara membesar, tumbuh jakun, mimpi basah dstnya
Kalau anak wanita ditandai dgn menstruasi dstnya
Kondisi baligh itu dicapai umumnya pd usia 13-16 tahun
Secara syariah ketika seorang anak mencapai aqil baligh, maka berlakulah sinnu taklif yaitu masa2 pembebanan syariah. Artinya anak kita yg mencapai aqil baligh maka kewajiban syariahnya akan setara dengan kedua orangtuanya
Ketika itu anak2 kita akan setara kewajibannya dgn kedua orangtuanya dalam shalat, puasa, zakat, haji, jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya
Mereka telah menjadi manusia dewasa
Yg memikul semua beban kewajiban seorang manusia dewasa
Artinya apa?
Artinya pendidikan Islam sejatinya menyiapkan anak2 Islam agar mampu menerima kewajiban syariah ketika mereka mencapai Aqil Baligh
Bersambung....
Kami akhirnya meyakini dan menyadari bahwa tiada lembaga terbaik di muka bumi utk mendidik generasi kecuali di keluarga dan di jama'ah atau komunitas
Fungsi pernikahan atau berkeluarga adalah mendidik anak dan membangun kepemimpinan/kemandirian berbasis potensi keluarga
Ketika kedua fungsi itu hilang, maka berakhirlah peran dan fungsi keluarga
Di abad modern ini, nyaris di banyak keluarga atau rumah, kedua misi dan fungsi itu tercerabut dari rumah
Umumnya fungsi mendidik anak diserahkan kpd persekolahan, fungsi kepemimpinan atau kemandirian atau kewirausahaan diserahkan kpd industri di luar rumah
Ketika amanah2 ini terlalaikan, maka terjadilah penyimpangan fitrah yg luar biasa dari anggota2 keluarga dan akhirnya secara massive menjadi penyimpangan sosial dan kejiwaan di masyarakat
Diantaranya perceraian sangat mudah terjadi, menurut statistik perceraian di Indonesia terjadi setiap 36 menit
Rumah tidak lagi sehangat dulu
Orang lalu sibuk bicara Quality Time, padahal Quantity juga penting
Terkait dgn tema hari ini mengenai konsep Aqil Baligh, sangat erat kaitannya dengan peran Home Education
Dunia di luar sana tidak pernah peduli dengan konsep pendidikan yang melahirkan generasi Aqil Baligh
pernah dengar kalau generasi di jaman nabi itu perkembangan psikologisnya berkembang lebih cepat daripada perkembangan fisiologisnya
sehingga jaman dulu banyak yg msh anak2 tp sdh hafal berbagai kitab dan berani memimpin perang (mohon koreksi jika ad yg keliru)
Ya benar, tradisi generasi aqil baligh sebenarnya berlangsung sampai era sebelum persekolahan modern masuk ke Indonesia
Indonesia mengenal konsep Surau, Dayah, Rangkang, Meunasah dll
Para ulama dahulu menanamkan tradisi kemandirian ketika menjelang aqilbaligh. Anak2 ketika itu umumnya sdh malu kalau usia 8-9 tahun masih tidur di rumah
Umumnya mereka tidur di Suraum (mushola/masjid)
Rasulullah SAW telah memulai pendidikan generasi aqil baligh ini tentu pada dirinya sendiri lewat bimbingan Allah swt
Usia 9 tahun, Rasulullah SAW telah magang berdagang ke Syams bersama pamannya
Lalu kemudian Rasulullah SAW mempraktekannya pd Sahabat2 muda (sahabat yg masih anak ketika Rasulullah saw sdh menjelang senja)
Kita mengenal Usamah bin Zaid ra
Siroh mencatat bhw Rasulullah saw menikahkan Usamah ra ketika berusia 14 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menikahkan Usamah ra?
jadi point penting pendidikan ketika zaman itu adalah kemandirian anak pak?
Tentu tidak. Usamah telah mengalami pendidikan generasi aqil baligh
Siroh kemudian mencatat bahwa Usamah ra ditunjuk menjadi panglima perang ke Tabuk pd usia 16 tahun
Apakah Rasulullah SAW lalai ketika menunjuk seseorang dalam penugasan yg penting?
Saya meyakini bukan hanya Usamah ra yang menjalani pendidikan generasi Aqil Baligh ini, tetapi juga sahabat2 seangkatan dengannya. Tentu dgn pendidikan yg disesuaikan dgn potensinya
Karenanya, model mendidik seperti ini kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
nanti kita bahas. Ada upaya melambatkan terbentuknya generasi aqil baligh ini. Bukan hanya pd generasi muda Islam, namun seluruh generasi pd abad modern
Sebuah Journal Psikologi thn 2009 menyebut bhw penyebab penyimpangan perilaku generasi muda adalah krn lambatnya pengakuan sosial pd kedewasaan mereka. Di Amerika, bahkan kecenderungan seorang dianggap dewasa ketika berusia 26 tahun
model mendidik generasi aqilbaligh seperti yg Rasulullah SAW teladankan kemudian menjadi tradisi selama ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat
Kita saksikan sepanjang sejarah putra2 AqilBaligh Islam bukan hanya mandiri ketika AqilBaligh tetapi telah memiliki peran yg menebar rahmat dan manfaat
Imam Syafii rahimahullah telah menjadi Mufti (pemberi fatwa) di usia 14 tahun
Alkhawarizmi telah menjadi penemu pemikiran2 matematika sejak usia 10 tahun dan menjadi guru besar di usia 16 tahun
HE secara berjamaah adalah lembaga yg kami yakini paling siap dan mampu melakukan itu
InsyaAllah
Dalam masyarakat yg menyerahkan anaknya pd persekolahan modern, mustahil bisa melahirkan generasi aqil baligh. Sistem persekolahan yg ada telah mensegregasi anak2 kita menjadi kelas2 sosial yg seolah telah baku. Misalnya disebut dewasa kalau sdh kerja dan kelar kuliah
Di masyarakat modern, siapa yg mau menerima anak2 berusia 14-16 tahun dalam sebuah peran2 di sosial masyarakat ??
Itu bukan salah anak kita atau generasi mereka. Tidak ada anak yg berdoa agar dijadikan anak alay dan lalai kan?
Seorang pakar psikolog Muslim, kalau tdk salah asal Turki, namanya Malik Badri. Tahun 85 pernah ke Indonesia. Bukunya yg kita kenal dan banyak diterjemahkan adalah Dilema Psikolog Muslim, mengatakan
Mengatakan bhw penjenjangan toddler, kids, teenager, adults dgn masing2 punya tahap awal tengah dan akhir dstnya bukan berasal dari landasan ilmiah. Itu hanya pengamatan psikolog barat thd masyarakat mereka. Yg kemudian diadopsi menjadi jenjang persekolahan
Malik Badri mengatakan bhw Islam hanya mengenal dua periode kehidupan di dunia, yaitu sebelum Aqil Baligh dan sesudah Aqil Baligh
Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan secara biologis. Kalau anak pria, biasanya suara membesar, tumbuh jakun, mimpi basah dstnya
Kalau anak wanita ditandai dgn menstruasi dstnya
Kondisi baligh itu dicapai umumnya pd usia 13-16 tahun
Secara syariah ketika seorang anak mencapai aqil baligh, maka berlakulah sinnu taklif yaitu masa2 pembebanan syariah. Artinya anak kita yg mencapai aqil baligh maka kewajiban syariahnya akan setara dengan kedua orangtuanya
Ketika itu anak2 kita akan setara kewajibannya dgn kedua orangtuanya dalam shalat, puasa, zakat, haji, jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya
Mereka telah menjadi manusia dewasa
Yg memikul semua beban kewajiban seorang manusia dewasa
Artinya apa?
Artinya pendidikan Islam sejatinya menyiapkan anak2 Islam agar mampu menerima kewajiban syariah ketika mereka mencapai Aqil Baligh
Bersambung....
Langganan:
Komentar (Atom)

